Mixing Step by Step

Mixing Step by Step
Mixing Step by Step

Mixing Step by Step

Pertama kali, bukalah semua track anda. Dimulai dari drum, bass, dan lalu instrument lain nya. Apabila master fader / stereo out anda clipping, maka turunkan semua fader nya hingga master fader tidak clipping. Setelah itu mulai lah membalance berbagai instrument tersebut. Tidak usah terlalu detail, tetapi apabila sudah terdengar enak di kuping maka sudah cukup baik. Pada tahap awal ini yang anda lakukan adalah mencoba familiar dengan material yang sedang anda mixing dan berbagai instrument yang ada di dalam nya. Belum perlu memasang berbagai macam efek pada tahap ini.

Setelah anda mulai familiar dengan materi lagu tersebut, maka anda dapat mulai meng kelompokkan berbagai instrument tersebut menjadi beberapa bagian seperti :

1. Drum / Perkusi
2. Piano, organ, string section, pad, cello, violin, dsb nya
3. Guitar distorsi, arpeggio, wah, strumming guitar, dsb nya
4. Backing Vocal

Pengelompokan disini berfungsi agar anda dapat mengenali gambaran besar dari materi yang sedang anda kerjakan. Setelah mendapatkan gambaran nya, maka anda dapat mulai melakukan panning ke kiri dan kanan. Mulai lah menggeser panning beberapa instrument sehingga menciptakan stereo image yang anda inginkan. Yang harus diingat adalah saat panning anda harus tetap menjaga supaya pembagian instrument nya tetap balance atau tidak timpang sebelah. Jangan sampai terlalu banyak instrument yang berada di kanan atau di kiri.

Apabila sudah sampai tahap ini, maka anda dapat mulai mempersiapkan Reverb. Buatlah 2 buah efek channel ( aux channel ). Lalu pada efek channel pertama, pasangkan sebuah reverb dengan reverb time yang anda inginkan. Mungkin sekitar 2 seconds sudah cukup baik. Pada efek channel kedua, pasangkan sebuah reverb dengan reverb time lebih pendek dari yang pertama.

Apabila reverb nya sudah siap, maka mute lah seluruh track kecuali drum, bass dan vocal. Ini adalah kerangka dari mixing anda. Setelah itu mulailah pasang compressor pada instrument yang membutuhkan nya. Bisa mulai dari bass dahulu, kemudian vocal, dst nya. Saat memasang compressor, kita juga dapat melihat bentuk graphic nya di layar computer untuk membantu menentukan instrument mana yang akan kita compress.

Setelah compressor sudah dipasang, maka anda bisa mulai memasang efek reverb. Bukalah send dari instrument yang akan diberi reverb, anda bisa mulai dari vocal dahulu. Apabila merasa karakteristik reverb kurang cocok, maka anda dapat merubah parameter nya sesuai dengan selera. Mungkin dengan mengatur reverb time nya, hi cut, low cut, pre delay, dan sebagai nya.

Kini anda telah memiliki sebuah kerangka mixing yang terdiri dari drum, vocal, dan bass yang telah diberi efek dan sudah terdengar matang. Dengarkanlah dengan baik, setelah itu anda dapat mulai menambahkan berbagai instrument pada kerangka yang telah anda buat tersebut. Kini anda dapat membuka mute dari instrument lain nya, tapi lakukan satu demi satu.

Sambil membuka mute dari instrument lain nya satu per satu, cek lah sound nya dengan teliti. Mungkin ada instrument yang low nya menggulung, atau high nya sakit di kuping. Bisa juga dinamika nya terlalu lebar sehingga perlu di compress. Perbaikilah berbagai masalah tersebut, setelah itu apabila diperlukan tambahkan reverb.

Lalu aturlah volume / gain dari tiap instrument yang baru anda buka mute nya itu supaya dapat menempel dengan baik pada kerangka utama. Jaga lead vocal nya supaya jangan sampai tenggelam oleh berbagai macam instrument yang ditambahkan.

Monitoring Mixing

Sewaktu anda mixing, jangan mixing hanya dengan satu volume saja. Sesekali naikkan volume anda untuk mengecek apakah low end nya terlalu besar, dan sesekali kecilkan volume nya utk mengecek apakah vocal nya sudah pas.

Jangan mixing terlalu lama tanpa istirahat. Ambil istirahat sekitar 10 menit setiap 1 atau 2 jam mixing. Apabila anda mixing dalam waktu lama dengan volume yang kencang, maka telinga anda akan cepat lelah. Ketika telinga anda lelah, frequency response telinga akan berubah. Saat itu anda tak akan dapat mixing dengan baik. Selain itu juga memiliki resiko hearing damage.

Waktu terbaik untuk mixing adalah pada pagi hari atau saat anda baru bangun tidur. Saat itu telinga anda fresh, dan tiga tulang anvil, hammer, dan Stirrup belum bekerja menahan suara yang masuk.

Ratusan ribu rambut halus di dalam cochlea memiliki ukuran yang berbeda. Rambut yang halus untuk menangkap high frequency, dan rambut yang lebih besar untuk menangkap low frequency. Rambut yang mudah rusak adalah rambut yang halus. Maka dari itu kehilangan pendengaran ( tuli ) biasanya dimulai dari frequency atas. Jangan terlalu banyak menambahkan high frequency yang berbahaya dan menyakitkan telinga pada saat mixing.

Saat mixing, jangan terpaku pada satu tempat. Tiap spot pada ruangan memiliki frequency response yang berbeda. Mungkin di pojok ruangan anda akan merasakan bass yang lebih, atau bisa juga di ruangan sebelah melalui pintu. Saat merasa hasil mixing sudah cukup baik, berjalan-jalan lah di sekitar ruangan untuk mengecek hasil mixing anda.

Mengecek Hasil Mixing

Hasil mixing dapat terdengar berbeda pada sistem yang berbeda. Pendengar hasil mixing anda nanti nya akan mendengarkan pada berbagai macam sistem. Jadi ada baik nya kita mengantisipasi dengan mengecek bagaimana hasil mixing kita terdengar pada:

1. Speaker Computer
2. Mini Compo
3. Headphone
4. Sound System mobil
5. dll

Beberapa Tips Tracking dan Mixing :

Faktor yang membantu untuk mendapatkan hasil tracking yang bagus :

* Skill player nya. Misalnya alat nya sama, tapi skill player nya beda maka sound nya juga beda banget. Player jago + instrument pasti sound nya bagus. Tinggal ambil microphone aja terus rekam dehh.
* Pemilihan microphone, dan microphone placement. Ini ngaruh banget. Tiap mic punya karakter yang beda. Biasanya SE pro punya beberapa pilihan microphone untuk aplikasi tertentu. Terus jarak dari microphone ke sound source juga pengaruh ke sound ( proximity effect ).
* Kualitas kabel. Jangan sekali-sekali pakai kabel palsu. Paling ngga, pakai deh kabel yang harga nya diatas 10 ribu semeter.
* Kualitas pre amp dan converter nya. Dulu pre amp dan converter harus beli terpisah. Masalahnya dahulu converter cuma bisa menerima line level signal. Tapi jaman sekarang banyak converter yang sudah menyertakan pre amp sehingga microphone bisa dicolok langsung. Juga instrument seperti gitar, bass, dsb. Walaupun demikian, tidak semua merek kualitas nya bagus. Banyak bertanya teman, baca internet, dan main ke studio teman untuk mendengar kualitas dari masing2 pre amp dan converter sebelum menentukan pilihan.

Nah, kalau beberapa poin diatas sudah dilengkapi sekarang para pembaca semua sudah punya bahan siap mixing yang berkualitas. Kalau bahan nya sudah bagus, maka hanya gunakan efek ketika diperlukan. Gaya purist aja, selain hemat waktu, hemat CPU, dan hemat yang lain2 Smiley

Step 1.
Mulai mixing sebagus-bagus nya hanya menggunakan level dan panning.
Step 2.
Terus pasang dehh reverb. Supaya hemat CPU pasanglah reverb di aux send / FX channel. Jangan lupa mix nya di set ke 100% / wet. Untuk aman nya Reverb Time / sustain / decay atur antara 1.5 s/d 2.5 seconds. Diatas 3 seconds sepertinya terlalu panjang. Karakteristik nya ambil mid atau agak high aja. Kalau reverb standard cubase, pasang aja low damping standard, terus high damping -3 dB.
Step 3.
Sesudah itu mulai deh cari instrument yang dinamika nya terlalu lebar. Artinya terkadang terdengar, terkadang tertutup musik. Bisa juga terkadang volume nya pas, terkadang terlalu keras. Begitu ketemu, langsung deh pasang compressor di “insert” nya instrument tersebut.
Saat penggunaan compressor, yang harus diperhatikan adalah lampu “Gain Reduction”. “GR” yaitu berapa dB signal yang telah dipotong compressor. Kalau lampu “GR” sudah menyala artinya compressor bekerja. Attack Time boleh taruh 20 ms, Release Time 80 ms.
Step 4.
Ada instrument yang bertabrakan freq nya? Atau sound nya ngga cocok di hati? Saat nya gunakan EQ. Pertama kali perhatikan sound asli nya, lalu cari masalah nya ada dimana. Lebih baik meng-cut daripada boost.

* Misalnya sound nya menggulung / kebanyakan low, pasanglah low shelf EQ.  Coba pasang di Frequency 150 dan Gain : -6 dB. Lalu pelan2 ubah nilai f nya sampai ketemu frequency yang dimaksud. Setelah itu baru ubah G nya untuk menentukan berapa dB yang akan dipotong.
* Misalnya sound nya terlalu bright / nyerang di kuping, pasanglah high shelf EQ. Prinsip nya sama spt di atas, coba di Frequency sekitar 8 kHz keatas.
* Untuk Mid frequency, boleh pakai Bell EQ. Parameter nya ada 3 yaitu f untuk frequency nya, g untuk gain nya, dan Q untuk bandwith nya.

Tips Mixing

Sekarang ini peralatan audio bukan hanya para SE dan studio rekaman saja yang beli. Melainkan mulai dari anak SMA dan Musisi yang mencoba rekaman sendiri di rumah. Banyak dari para pendatang baru di bidang audio ini yang punya kesulitan untuk mendapatkan hasil mixing yang pro. Hasil mixing kedengeran nya sudah oke, tapi koq ada yang kurang ya???

Well, kita semua tahu bahwa hasil yang pro perlu pengalaman dan ngga bisa didapat dengan singkat. Tapi saya coba kasih beberapa tips yang mudah2 an bisa mempercepat teman2 sound engineer yang baru beli alat dan masih bingung untuk cari sound “pro” tersebut.

1. Monitoring Level
Mungkin karena takut telinga lelah atau tak mau ganggu teman yang lagi tidur di studio, beberapa orang mixing dengan volume yang pelan. Ini tidak baik. Kalau anda mixing dengan volume yang terlalu pelan, maka kemungkinan besar hasil mixing anda akan kebanyakan bass. Ada hubungan nya dengan teori kurva fletcher / munson yang singkatnya mengatakan bahwa telinga manusia pada saat volume rendah tak seberapa sensitif pada low & high frequency. Coba saat anda mixing dengan volume rendah, setelah selesai lalu naikkan volume nya. Mungkin anda akan merasakan, lho ternyata bass nya kegedean ya??
Tetapi perlu diingat, bukan berarti anda harus mixing dengan volume yang kuat. Apabila mixing dengan volume yang kuat dalam jangka waktu panjang, sangat be-resiko bagi pendengaran anda. Karena itu saat mixing volume level yang baik biasanya sekitar 85 dB. Patokan nya apabila anda masih dapat mendengar teman anda berbicara dalam jarak 1 meter, maka artinya masih oke.

2. Hasil akhir yang mendem
Ini juga masalah rutin yang banyak terjadi hehehe. Kalau anda perhatikan ada beberapa CD pro yang bright, high frequency dan tidak mendem. Sedangkan kalau anda coba EQ pasti akan sakit ke telinga, dan tak mendapatkan sound spt itu. Lalu itu sound apa?? Jawabnya adalah HARMONIC. Jadi kalau mau cari sound itu musti beli alat yang namanya exciter, vitalizer, dsb yang akan meng “create” harmonic content untuk musik anda. Cara kerja nya exciter adalah dia akan me-recreate high frequency yang hilang atau tidak ada dari sana nya. Jadi beda dengan EQ. Hati2 dengan penggunaan exciter karena mungkin bisa jadi anda tidak menyadari terlalu banyak memberi exciter. Apalagi kalau pada master fader. Tahu2 hasil mixing anda terlalu bright jadi nya.

3. Experiment dengan Reverb
Pertama kali, reverb harus ditaruh di fx channel atau aux channel. Jangan di insert karena akan menghabiskan CPU anda.
Carilah reverb yang baik bunyi nya. Jangan sembarang ambil reverb lalu pakai preset. Penggunaan reverb yang salah akan menyebabkan hasil mixing terdengar amatir, dan tak dapat diperbaiki saat mastering. Misal nya vocal yang seperti di dalam sumur, atau snare reverb yang jadul dsb.
Experiment lah dengan reverb, misalnya gunakan reverb dengan karakteristik bright untuk vocal dengan reverb time agak panjang ( apabila lagu nya slow ). Lalu untuk snare gunakan karakteristik mid dengan reverb time dan pre delay yang berbeda. Semakin anda ber eksperiment, maka semakin banyak yang anda temui dan membuat hasil mixing lebih terdengar pro.

4. Gunakan EQ seperlu nya
Selalu usahakan untuk mendapatkan hasil yang di inginkan pada saat tracking. Ingatlah pepatah “Rubbish in Rubbish out”. Secara pribadi saya selalu mencoba mixing tanpa menggunakan EQ sama sekali. Tapi sayangnya di sini sering dapat job hasil tracking orang lain. Semakin parah material nya, terpaksa deh menggunakan banyak EQ Smiley

5. Gunakan Compressor seperlu nya
Kalau misal nya bisa kelihatan di graphic nya misalnya waktu intro pelan, lalu waktu ref jadi kencang, gunakan aja automation untuk menyamakan nya. Sound nya lebih natural lho. Dan untuk yang baru coba2 pake compressor, kalau settingan ngga benar malah buat sound nya jadi ngga enak. Ngga percaya? Coba experiment dengan sound yg agak fluktuatif. Misal nya acoustic guitar yang petikan, taruh compressor hingga didapat Gain Reduction sekitar 6 dB. Lalu setting attack 5 ms, release 10 ms. Gimana hasil nya? Kemungkinan besar sound nya akan terdengar pecah.

6. Pakailah Speaker Flat
Speaker flat itu netral artinya tidak ada frequency yg di boost, juga dia lebih detil dalam me reproduksi suara. Misalnya yang ngga akan kedengeran di speaker rumah spt background noise, akan terdengar di speaker flat. Juga speaker rumah sangat sulit untuk fine tuning parameter. Reverb panjang dan pendek ngga jelas beda nya. Lalu suara bass dan oboe jadi mirip hehehe. Begitu juga susah waktu meng EQ instrument.
Tapi memang banyak yg tertipu dengan speaker flat karena belum biasa. Biasa nya dengar speaker rumah yg bass nya mantap, lho koq di speaker flat ngga gitu berasa. Jadi nya pas mixing di speaker flat kegedean bass nya. Begitu juga dengan treble.

source : http://dolphindaw.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s