Tips untuk Tracking dalam Recording digital

Tips untuk Tracking dalam Recording digital

Recording daw

Recording daw

Salah satu yang membedakan SE pemula dan SE Pro adalah Sound Engineer professional hampir selalu mendapatkan hasil rekam yang baik dengan menggunakan alat apapun.

Misalnya sebuah studio yang biasa dijalankan oleh pemiliknya, seorang SE pengalaman. Suatu hari dia sakit dan terpaksa digantikan assistant nya, sering kali si klient akan keberatan dan mungkin minta diganti hari sambil menunggu hingga SE favorit mereka sembuh. Mengapa bisa demikian? Walaupun peralatan nya sama tetapi apabila yang menggunakan nya berbeda sudah bisa dipastikan hasilnya akan berbeda.

Sound Engineer professional walaupun diberi alat sederhana akan mendapatkan hasil yang bagus. Akan tetapi SE pemula walaupun diberi alat canggih belum tentu mendapatkan hasil yang memuaskan. Jadi sudah jelas bahwa yang menentukan adalah jam terbang atau pengetahuan dari SE yang bersangkutan. Semakin tinggi jam terbang seorang Sound Engineer, semakin banyak pengalaman dan pengetahuan nya. Otomatis akan semakin baik pula hasil rekaman nya.

Lalu bagi SE pemula, apa saja yang minimal perlu diketahui supaya dapat menghasilkan rekaman yg lumayan baik, dan layak mixing. Karena sering kali hasil rekam sedemikian parah nya sampai tidak bisa di mixing hehe.

Oke…bagi yang baru mulai rekaman, ada beberapa tips yang mungkin bisa diikuti supaya hasil rekam anda bisa dikatakan “Layak Mixing”

1. Mengerti dengan baik apa itu bit resolution dan sample rate. Penjelasan : Bit resolution menentukan berapa lebar dynamic range yang dimiliki oleh hasil rekaman anda. Misalnya anda merekam dengan bit resolution 16 bit. Maka secara teori hasil rekaman anda memiliki dynamic range 96 dB, atau dengan kata lain noise floor hasil rekam anda berada pada -96 dBFS. Tidak perduli apakah soundcard anda memiliki S/N Ratio 120 dB sekalipun, tapi apabila anda merekam pada format 16 bit maka hasil rekam anda hanya memiliki dynamic range 96 dB. Itulah sebabnya kebanyakan orang merekam dengan format 24 bit.

Sample rate menentukan frequency tertinggi yang dapat direkam / playback oleh audio file anda. Misalnya anda merekam dengan format sample rate 8 khz. Maka frequency tertinggi yang dapat anda rekam / playback adalah setengah dari itu yaitu 4 khz. Yang harus diperhatikan adalah CD standard ( red book ) menentukan sample rate nya adalah 44.1khz. Saat ini banyak sound card yang dapat merekam hingga 192 khz. Tapi pertanyaan nya perlukah merekam dengan sample rate sedemikian tinggi apabila yang anda rekam sehari-hari adalah demo atau master biasa yang akan direkam ke CD Audio ??

2. Mengerti Headroom dan Gain Structure. Begitu anda memahami headroom, juga harus memahami yang namanya Gain Structure karena peralatan analog juga memiliki dynamic range. Misalnya anda menyetel pre amp anda dengan gain yang rendah. Bisa dipastikan signal anda berada dekat dengan noise floor dari pre amp tersebut. Walaupun di tahap berikut nya anda menaikkan levelnya, akan tetapi noise dari si pre amp akan ikut terangkat. Bisa dibilang anda tidak memaksimalkan peralatan yang dimiliki.

Begitu juga sebaliknya apabila di pre amp anda sudah mendapatkan signal yang cukup “hot”, tetapi pada saat konversi digital nya signal terlalu rendah, maka dibilang membuang-buang bit resolution. Hasil rekam anda juga tidak akan memiliki dynamic range yang lebar.

3. Mengerti jenis kabel dan signal level. Pada garis besarnya signal di studio dibagi atas 3 macam yaitu line level, microphone level dan instrument level. Line level biasanya berasal dari berbagai macam peralatan di studio seperti keyboard, floor board / fx guitar, pre amp output, dsb. Line level ada dua macam yaitu pro +4 dan consumer -10 level. Microphone level berasal dari microphone, sedangkan instrument level berasal dari gitar dan bass anda.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi yaitu mencolokkan inst level pada line input mixer / converter disebabkan keduanya memiliki koneksi yang mirip yaitu TS / TRS. Terkadang juga ada yang mencolokkan line level terhadap microphone input dikarenakan beberapa peralatan memiliki line out dalam bentuk XLR. Apabila tidak memahami dengan baik perbedaannya masing2 maka akan berpotensi menurunkan kualitas hasil rekaman anda.

4. Mengerti jenis microphone dan polar pattern nya. Di Studio kita menggunakan berbagai macam microphone. Ada microphone untuk take vocal, todong ampli gitar / bass. Ada yang digunakan untuk merekam ambience drum, overhead drum, untuk todong guitar acoustic, dsb. Beberapa microphone memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda-beda sehingga seorang SE mutlak mengetahui saat dia akan memilih microphone yang akan digunakan.

Secara garis besar ada beberapa jenis microphone. Dua yang paling banyak digunakan adalah condenser dan dynamic. Microphone condenser memiliki tangkapan frequency yang lebih baik dan detail dibandingkan microphone dynamic, dengan persyaratan dia memerlukan phantom power. Phantom Power yaitu arus 48 v yang berfungsi menghidupkan microphone condenser. Kebalikan nya Dynamic Microphone tidak memiliki detail sebaik condenser, akan tetapi dia lebih tahan banting dan tahan high SPL sehingga sering digunakan pada instrument drum. Akan tetapi untuk overhead dan ambience biasanya tetap menggunakan microphone condenser.

Polar Pattern disebut juga arah tangkapan dari microphone yang bersangkutan. Ada beberapa jenis polar pattern seperti cardioid, omni directional, figure of 8 dan sebagainya. Ketika melakukan microphone placement nanti si Sound Engineer juga akan menentukan polar pattern dari microphone yang digunakan supaya nantinya didapat hasil yang maksimal dan bebas dari sound yang tidak diinginkan.

5. Mengerti Signal Routing dan Monitoring. Monitoring dan signal routing sangat penting di dalam studio. Monitoring yang terbaik adalah free latency monitoring. Yaitu apa yang dimainkan atau diucapkan si artis akan didengar tanpa ada keterlambatan sehingga mood si player / artis akan tetap terjaga.

Terkadang vocalist atau drummer menginginkan “special mix” untuk headphone mereka. Misalnya si drummer ingin click track / metronome nya lebih jelas. Atau si vocalist juga menginginkan vocal dia diperjelas untuk pitch control. Apabila si SE mengerti monitoring dan signal routing secara keseluruhan, maka seluruh keinginan player dapat dipenuhi sehingga suasana recording bisa dijaga. Tidak masalah untuk membuat dua buah mix yang berbeda. Satu untuk control room dan satunya lagi sesuai permintaan dari si artis / player.

Bagi yang baru mulai belajar rekaman biasanya menggunakan mic dynamic. Mic dynamic adalah mic yang paling sering dipakai untuk karaoke, harganya murah dan tahan banting. Perlahan-lahan lalu mulai beranjak beli peralatan lumayan, dan tentunya microphone condenser.

Tapi banyak yang biasanya rekaman ngga ada masalah, begitu menggunakan mic condenser malah jadi masalah. Ada yang bilang, microphone ini terlalu peka. Segala suara noise mulai kipas computer, AC, suara lalu lintas ikut tertangkap masuk. Kebanyakan hal ini terjadi pada yang merekam di kamarnya, tanpa isolation yang memadai atau tidak memiliki vocal booth.

Apabila mencoba menanggulangi dengan mengecilkan gain pada pre amp / converter maka tidak akan berhasil karena tentu saja noise nya menjadi kecil, tetapi begitu juga dengan signal yang kita mau. Misalnya vocal.

Ada beberapa cara yang lebih efektif yaitu :

1. Close miking. Dengan begitu maka sebagian besar signal yang tertangkap oleh microphone adalah direct sound. Dengan kata lain mengurangi jumlah porsi noise/ambient sound. Tapi berhati-hatilah dengan close miking ini karena apabila terlalu dekat bisa terjadi penambahan frequency low yang disebut juga dengan proximity effect. Tapi setidaknya ini bisa dihilangkan dengan EQ pada saat mixing nanti.

2. Apabila menggunakan microphone condenser dengan polar pattern cardioid, cobalah untuk mengarahkan microphone supaya membelakangi sumber noise. Microphone dengan polar pattern cardioid menangkap suara dari depan, dan me reject suara yang datang dari belakang sehingga apabila microphone ditaruh dengan posisi membelakangi noise (misalnya suara AC), maka noise yang masuk ke microphone akan menjadi kecil.

3. Apabila noise yang ada bersifat konstan, bisa dicoba dengan menggunakan noise reduction plug in. Contohnya waves x-noise. Cara memakai nya mula2 play bagian yang hanya berisi noise nya saja ( tanpa suara lain nya ) sehingga si plug in bisa mempelajari noise print nya. Setelah itu, tinggal mengeset threshold dan noise reduction level yang kita inginkan

Source : http://dolphindaw.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s