Cupak Gurantang

Cupak Gurantang, Ketika Kejujuran Bertarung Dengan Keculasan

Written by      : Dedy Aryo

Cupak gurantang

Cupak gurantang

DUNIA ini tercipta dengan begitu banyak warna kehidupan, yang pada akhirnya ke semua warna kehidupan itu akan bermuara di titik hitam dan putih. Kebaikkan bertemu dengan kejahatan, Kejujuran bertemu dengan keculasan, seperti yang dikisahkan dalam kisah legenda Cupak Gurantang yang dimainkan para seniman teater tradisi Sanggar Swanda Putra, karakter Cupak yang Antagonis bersaudara dengan Gurantang sang tokoh protogonisnya.

Cerita legenda suku Sasak ini penuh dengan pesan-pesan moral, yang kesemua pesan tersebut masih relevan untuk diterapkan dalam konteks kekinian negeri ini, ketika kejujuran bersembunyi dibalik pintu tatkala melihat keculasan merajalela.

Sanggar Swanda Putra pimpinan Yusuf Effendi sangatlah ditunggu kehadirannya oleh masyarakat Desa Sidemen, yang pada kali ini mempunyai hajatan peresmian pasar desa mereka yang baru, hingga untuk semakin memeriahkan acara persemian tersebut, pihak perangkat desa mengundang atau ‘menanggap’ dalam bahasa sasaknya, sanggar kesenian asal Dasan Agung Mataram ini.

Antusiasme masyarakat sangatlah luar biasa. Kompleks pasar desa ini dipenuhi dengan ratusan pasang mata yang ingin menyaksikan pertunjukkan Cupak Gurantang tersebut. Bahkan terlihat dari kejauhan puluhan lampu petromak berduyun-duyun menuruni perbukitan menuju kompleks pasar desa yang menjelma menjadi pusat keramaian ini.

“Jaok-jaok ite dateng kemelet gitak Cupak Gurantang ne. Tumben lalok arak lek te Cupak Gurantang ne,” ucap Saidah dengan aksen Sasak yang kental, dan bila diterjemahkan berarti jauh-jauh kita datang ingin lihat Cupak Gurantang. Baru kali ini ada Cupak Gurantang disini.

Diatas panggung yang begitu sederhana dihiasi beberapa pucuk ranting kayu dan dedaunan serta janur kuning yang membentang, didepan backdrop yang seadanya dan dibawah empat buah lampu neon sebagai penerangan, para pemain gendang belek sedang mempersiapkan dirinya untuk membuka pertunjukkan ini.

Dibuka dengan alunan gong yang bertalu-talu, berpadu padan dengan gemerincing kerincing yang ditepuk, dan gendang belek yang ditabuh, menambah hingar bingar suasana malam yang bertabur bintang. Sangat menarik melihat koreografi yang tersaji, tatkala dua pemain gendang belek ‘bertarung’, saling menggoda satu sama lainnya menari mengikuti irama tetabuhan dan kisah Cupak Gurantang pun mulai bergulir.

Cerita pun dibuka dengan kisah yang bersetting di kerajaan Dahapura, tatkala sang Maharaja sedang mengadakan sedang paripurna ditemani oleh dua punakawannya yaitu Kempes dan Kembung. Kedua punakawan ini ketika berada diatas panggung mampu mengundang gelak tawa penonton, karena mimik muka, postur tubuh, serta tingkah laku yang begitu lucu, terlebih ketika keduanya saling berbalas pantun, derai tawa pun terdengar memecah kesunyian malam yang begitu dingin di desa Karang Sidemen ini.

Saat sidang paripurna yang dipimpin sang Maharaja dan juga dihadiri oleh Mahapatih Arya Patih Mangkubumi dan Arya Patih Mangkunegara serta dua punakawan, yang membahas masalah keamanan, pembangunan, dan masalah kesehatan, dimana dialog yang diucapkan para pemain diatas panggung penuh dengan pesan-pesan kepada masyarakat, kehadiran Putri Sri Ayu Wulansari diatas pentas yang ditemani sang pengiring, kian menambah semarak suasana. Karena memang kisah Cupak Gurantang mempunyai pesan moral yang begitu kuat, dan untuk menyampaikan pesan ini kepada masyarakat terbilang cukup mudah, karena memang kesenian tradisi ini milik masyarakat Sasak,”terang Yusuf yang ditemui di belakang panggung.

Kehadiran sang putri dalam sidang tersebut, karena ingin memohon ijin sang Raja agar diperbolehkan untuk bermain di areal Taman Sari. Keinginan pun dikabulkan, sang putri bermain di taman sari ditemani dua punakawan serta seorang pengiring. Malapetaka pun hadir di Taman Sari, ketika asyik bermain putri Wulansari diculik raksasa bertampang seram dan memiliki kuku begitu panjang. Kejadian tersebut membuat geger seluruh kerajaan Dahapura, hingga sang Maharaja membuat sayembara, bila ada yang bisa membebaskan sang putrid, bila pria akan dinikahkan langsung, dan bila wanita akan diberikan harta yang berlimpah-limpah.

Nun jauh dipelosok kerajaan hidup sepasang anak yatim piatu bernama Cupak dan Gurantang. Walau keduanya bersaudara, tapi sifat yang dimiliki keduanya sangatlah bertolak belakang, Cupak merupakan tipikal dari sosok yang licik, culas, penipu kelas wahid, dan lain sebagainya, sedangkan Gurantang mewakili sosok yang begitu jujur, bersahaja, dan sederhana.

Cupak dan Gurantang dalam pengembaraannya akhirnya bertemu dengan sepasang suami istri yang tidak memiliki keturunan, Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol yang akhirnya mengangkat mereka berdua menjadi anak. Selama hidup bersama keluarga Bangkol, Gurantang kesusahan karena terus difitnah oleh Cupak, hingga membuatnya seringkali didamprat oleh Amaq dan Inaq Bangkol.

“Gurantang ini sedang mengalami banyak ujian. Selalu bekerja dengan begitu rajin, tapi hasil pekerjaannya diklaim oleh Cupak seraya menebar fitnah keji di hadapan kedua orang tua angkatnya,”selanya kembali.

Diceritakan oleh Yusuf, duo bersaudara tersebut mendengar juga saymebara yang diadakan raja. Dengan niat ingin bekerja seringan mungkin dan mendapatkan hasil yang besar, Cupak berusaha memperdaya Gurantang selama dalam proses perburuan raksasa yang menculik sang putri.

Penonton pun ikut larut dalam alunan kisah yang terjalin diatas panggung, hingga membuat beberapa penonton yang begitu gemas dengan sifat yang dimiliki Cupak melemparnya. Terlihat sebuah pisang melayang keatas panggung mengenai badan Cupak.

Cerita ini pun berakhir dengan menyenangkan ketika Gurantang berhasil mempersunting sang putri karena berhasil mengalahkan raksasa yang menculik putri, sedangkan Gurantang hanya bias menjalani hari-harinya seraya menahan malu karena perbuatan yang telah dilakukannya terhadap saudara kandungnya tersebut.

“Gurantang yang mewakili segala sifat kebaikkan akhirnya keluar sebagai pemenang. Alunan cerita ini menyimbolkan ketika kejujuran bertarung dengan kelicikkan, tetap saja pada akhirnya kebaikkan akan keluar sebagai pemenangnya,”pungkas pria sepuh ini ketika mengakhiri pertunjukkannya di pagi buta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s