Melacak Ideologi di Balik Gemuruh Heavy Metal

Melacak Ideologi di Balik Gemuruh Heavy Metal
oleh Fajar Junaedi
Led Zeppelin

Led Zeppelin

Empat personel grup Led Zeppelin (foto: google)

Abstract

Heavy metal has been a influential and popular music around the world. Its popularity has reached different countries and language. As a genre of rock music, heavy metal comes from everyday life experience of the musician. Majority of heavy metal musician are young, so heavy metal is fully of resistance youth culture. Behind its popularity, heavy metal has ideology that can be articulated in different terms, like as a cock rock and androgyny in gender perspective. The resistance of heavy metal has caused moral panic in dominant class.
Keyword: heavy metal, resistance, ideology

Pendahuluan

”I don’t question our existance, I just question our modern needs” (Pearljam, Garden)
Heavy metal adalah genre musik rock yang merajai hingar-bingar dunia musik pada dekade 1980-an dan pengaruhnya masih tetap menggema melalui beragam subgenre yang dilahirkannya, seperti musik industrial, black metal, grunge, gothic dan sejenisnya. Iron Maiden, Metallica, Megadeth, Metal Chruch, Antrax, Montley Crue, Black Sabbath dan tentu saja band heavy metal legendaris Judas Priest adalah beberapa pengusung heavy metal yang populer pada dekade ini dan banyak dipuja anak muda. Heavy metal dalam dekade ini berhasil sukses berkembang sebagai genre musik terpopuler secara massif, baik dari sisi sukses komersial yang menakjubkan maupun beragam gaya hidup (life style) yang lahir dari rahim heavy metal.

Pada mulanya audiens heavy metal adalah laki-laki kulit putih, namun secara cepat heavy metal tumbuh berkembang tidak hanya terbatas pada laki-laki kulit putih namun berhasil meraih segmen pasar perempuan melalui subgenre soft metal seperti yang dipopulerkan oleh Bon Jovi, dan kebanyakan berasal dari kelas menengah (middle-class), dari mereka yang masih berusia belasan tahun sampai akhir dua puluh tahun. Bukti popularitas heavy metal pada dekad 1980-an dapat ditunjukan dengan keberhasilan heavy metal meraih angka penjualan sebanyak empat puluh persen dari seluruh produk rekaman musik yang terjual di Amerika Serikat pada tahun 1989 (Walser dalam Bennet, 2001:45).
Studi tentang heavy metal berhubungan dengan kegemaran anak muda terutama pada usia dua puluhan tahun terhadap jenis musik ini yang mayoritas berkaitan dengan berbagai isu sosial seperti posisi sosial ekonomi yang rendah, kehidupan rumah tangga yang tidak bahagia, post industrial, resiko sosial (social risk) dan anomie (Bannet, 2001:42). Tema-tema seperti inilah yang seringkali dialami anak muda, terutama di negara maju yang notabene ditandai oleh situasi affluent society, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan Inggris.

Asal mula heavy metal dapat ditelusuri dari turunnya popularitas musik psychedelic pada dekade 1960-an. Seperti yang dikemukakan oleh Straw (dalam Bennet, 2001:43), saat psychedelia mulai dijauhi publik, musik rock berkembang pesat dalam tiga genre yaitu country rock yang dipelopori oleh The Eagles, progessive rock yang banyak dipelopori oleh band dari daratan Inggris seperti Genesis, Yes, Emerson dan Lake and Palmer dan genre terakhir yang berkembang adalah heavy metal. Singkatnya heavy metal mempresentasikan kembalinya “the more aesthetic of rock and roll at the same time retaining from psychedelia an emphasis on technological effect and instrumental virtuosit (Bennet, 2001: 43)“.

Hal ini mengingatkan kita dengan gelombang awal Rock and Roll yang kritis dengan kondisi masyarakat di dunia negara-negara maju yang notabene dipenuhi suasana serba kemapanan (affluent society) seperti yang dipelopori Bob Dylan di tahun 1960-an. Kritikan yang pararel dengan tema-tema besar yang diusung oleh gerakan mahasiswa kiri baru (new left) yang fenomenal saat itu, seperti perlawanan atas masyarakat konsum dan toleransi represif, anti kapitalisme sekaligus anti dogmantisme ajaran marxisme yang dilakukan kaum marxis-leninis (Magnis – Suseno dalam Basis No. 3-4/1996). Tema-tema besar yang diwujudkan dengan perlawanan kaum muda yang dibesarkan saat booming ekonomi melanda negara-negara maju di belahan Eropa Barat dan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II dalam suasana budaya konsumen (consumer culture) yang lahir sebagai konsekuensi logis dari booming ekonomi tersebut, sehingga dikenal mereka dikenal sebagai post war youth (Bannet, 2001 : 29).

Musik rock and roll, yang kemudian lebih populer dengan sebutan musik rock atau kadang cukup disebut “rock” saja dengan segala genrenya dibesarkan dari industri budaya (industrial culture) yang bersifat masif. Dengan demikian rock menjadi bagian dari dari budaya pop. Istilah budaya populer berasal dari terminologi popular culture. Terminologi ini berasal dari dua kata yaitu culture yang dapat dimobilisasikan sebagai berbagai wacana (discourses) yang berbeda – beda, seperti folk culture, mass culture, consumer culture, popular culture, high culture serta low culture.

Artikulasi Musik Rock

Sedangkan kata popular dalam pemahaman orang Barat berarti “rakyat”. Sehingga budaya pop dalam hal ini dipahami sebagai budaya yang merakyat atau dapat dinikmati rakyat kebanyakan, bukan oleh kalangan tertentu saja. Sebagai bagian dari budaya pop, tentu saja rock dapat juga dinikmati oleh semua kalangan rakyat kebanyakan. Cukup dengan memutar kaset, MP3 atau CD, menonton di layar televisi, mendengarkan radio atupun cukup dengan men-download dari beragam situs di internet, rock dapat hadir ke hadapan kita.

Rock memiliki keistemewaan yang unik. Dengan kekuatan musik dan liriknya, ia mampu menyedot ratusan bahkan jutaan penonton, seperti di Woodstock (Haiklip September 1999) dan Rock in Rio (Haiklip, Februari 2001). Pada saat kali pertama dipergelarkan pada 15 Mei 1969, Woodstock Music Festival and Art Fair diperkirakan hanya akan dihadiri 50.000 audiens, namun kenyataannya yang hadir sepuluh kali lipat dari jumlah yang diperkirakan yaitu 500.000 audiens, sehingga tidak mengherankan jika Woodstock 1969 yang kental dengan perlawanan generasi muda Amerika terhadap keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam dianggap sebagai gerakan terbesar dalam khasanah budaya perlawanan (counter culture) (Storey dalam Storey [ed], 1994: 236). Sebuah fenomena yang kemudian memiliki andil besar dalam melahirkan budaya anak muda (youth culture), sebuah bentuk budaya yang melewati batas etnis, budaya dan taste of culture (Shuker, 2001: 196).

Dalam budaya yang demikian, musik rock mampu menghipnotis audience-nya untuk hanyut ke dalam lirik lagu yang sedang dinyanyikan seperti dengan moshing. Seringkali jarak (distance) antara musisi rock yang berada di panggung dengan audiensnya terhapus, karena tidak jarang musisi turun dari panggung dan bergabung dengan audiensnya untuk moshing bersama, atau sebaliknya audiens naik ke panggung pertunjukan.
Pada awalnya musik rock sebagai jenis musik yang sarat dengan counter culture muncul secara bottom up bukan top down, seperti yang diperlihatkan oleh musik rock yang tumbuh berkembang di daerah Pantai Barat Amerika (West Coast of America). Namun sebagaimana budaya pop lainnya yang berada dalam ranah sistem kapitalisme, musik rock mau tidak mau terjebak ke dalam pencaplokan atau inkorporasi (incorporation) perusahaan rekaman (Storey dalam Storey [ed], 1994 : 234).

Pada perkembangannya, inkorporasi ini mengakibatkan relasi yang unik yaitu sebagai budaya pop yang berkembang seiring perkembangan kapitalisme lanjut (late capitalism) rock bukan lagi sekadar produk industri musik, seperti produk Sony Music, Warner Brothers dan BMI an sich, namun rock masih sering digunakan sebagai medium perlawanan (resistensi) terhadap penguasa yang diperankan oleh kelas dominan, dengan segala kelebihannya sebagai musik yang pada awal perkembangannya lekat dengan perlawanan kelas tertindas sehinga tumbuh secara bottom up dan di sisi yang lain, kekurangannya setelah mengalami pencaplokan oleh industri rekaman dengan modal yang besar.
Di tahun 1969, saat kapitalisme lanjut di Amerika mencapai antiklimaksnya, Woodstock Music Festival and Art Fair diadakan dengan dijiwai semangat resistensi kaum muda Amerika terhadap keterlibatkan Amerika di Perang Vietnam yang berkepanjangan, imperialisme, konservatisme generasi tua, rasisme, civil rights movement dan kemuakan terhadap kapitalisme sejalan seperti yang diperjuangkan oleh new left (Haiklip September 1999; Storey dalam Storey [ed], 1994: 232). Semangat yang sayangnya tidak lagi menjiwai Woodstock 1999, di mana RATM tampil sebagai salah satu band yang menyemarakan pesta musik yang besar ini, yang akhirnya kemudian ketiadaan tema dan semangat perlawanan inilah yang disinyalir mengakibatkan Woodstock 1999 berakhir dengan aksi bakar-bakaran saat Red Hot Chili Peppers yang didaulat tampil sebagai band penutup bersama Megadeth membawakan lagu Fire-nya Jimi Hendrix.
Festival inilah yang kemudian mengilhami festival musik serupa di belahan dunia selatan yaitu Rock in Rio di Brasil yang disemangati resistensi negara ketiga (periphery) terhadap hegemoni negara maju (core). Mengenai resistensi negara pinggir ini dapat dipahami dari teori sistem dunia (the world system theory) yang menyebutkan bahwa pertukaran yang tidak seimbang antara negara maju dan negara pinggir telah mengakibatkan depedensi yang berlarut-larut (Deveroux, 2003 : 45). Uniknya, peredaran albuk musik heavy metal didominasi perusahaan rekaman multinasional dari negara maju, terutama Amerika Serikat.

Ada pandangan menarik yang dikemukakan oleh John Fiske budaya pop, sebuah ranah budaya di mana musik heavy metal eksis, yang menyatakan bahwa budaya pop bukan semata merupakan produk industri dalam sistem kapitalisme an sich, tapi terbentuk dari “rakyat” sebagai satu bentuk perlawanan (Stevenson, 1997 : 97). Rock adalah ikon budaya pop yang secara jelas dapat menunjukan proses ini. Rock pada awal pertumbuhannya lahir dari massa audiensnya, yang bisa jadi kemudian audiens ini menjadi musisi, bukan dari dalam gedung kantor perusahaan rekaman (Frith dalam Lazare [ed], 1987: 311).

Sepanjang setengah abad setelah dipopulerkan, musik rock membawa pelbagai pengaruh terhadap para audiensnya. Jenis musik ini telah mengubah bagaimana cara musik pop diproduksi dan dipasarkan serta juga bagaimana secara sosial diterima oleh publik (Bannet, 2001:11). Seperti halnya dalam gaya hidup (life style) rock mempunyai pengaruh dalam kehidupan hidup anak muda. Komunitas punk, heavy metal, grunge, hip metal dan berbagai komunitas genre rock yang lain bergaya hidup menurut sistem nilai komunitasnya masing-masing. Rantai yang sering dipakai sebagai aksesoris oleh komunitas punk misalnya, sebenarnya mempunyai nilai filosofis sebagai simbol solidaritas terhadap kawan-kawan mereka yang dipenjara oleh kekuatan kelas dominan yang berkuasa, yang seringkali diperankan oleh negara.

Media merupakan satu instrumen bagi seni untuk mentransmisikan pesan-pesannya (Mc. Quail, 1998: 37). Media dalam komunikasi massa kemudian dianggap sebagai instrumen dari kelas-kelas dominan dalam masyarakat. Asumsi tidak lepas dari apa yang dinyatakan oleh Marx bahwa ideologi kelas berkuasa (ideas of ruling class) sekaligus akan menjadi ide yang berkuasa (ruling ideas) karena kelas yang berkuasa memiliki material force (dalam Storey [ed],1994:197). Persoalannya kemudian adalah, bagaimana posisi musik heavy metal yang menjadi media resistensi? Jika merunut pada Marx, heavy metal adalah bentuk dari instrumen kelas dominan untuk medominasi dan menghegemoni, namun pada kenyataannya heavy metal sarat dengan kritik terhadap kelas penguasa.

Pertanyaan di atas bisa dijawab terlebih dahulu dengan mendiskusikan artikulasi budaya massa. Budaya massa sering diperbandingkan dengan budaya tinggi (high culture) yang berciri pada produk yang memiliki dua ciri khas. Pertama, diciptakan dan berada di bawah pengawasan elit budaya yang berperan sesuai tradisi estetis, sastra dan ilmu pengetahuan. Kedua, standar yang ketat, yang tidak bergantung kepada konsumen produk mereka dan dilaksanakan secara sistematis. Sedangkan budaya massa mengacu kepada pengertian produk budaya yang dicitakan semata-mata untuk pasar. Ciri-ciri lain yang tidak tersurat dalam definisi tersebut adalah standarisasi produk dan perilaku massa dalam penggunaan produk tersebut (Mc.Quail, 2000: 38). Dengan kata lain dalam budaya massa, orientasi produk adalah trend atau mode yang sedang diminati pasar.

Bahkan dalam bukunya yang paling berpengaruh One – Dimensional Man, Herbert Marcuse, yang dikenal sebagai nabi bagi kaum Kiri Baru berkeyakinan bahwa dengan adanya kebudayaan massa, aspek progresif dari seni klasik telah dihapus hanya sekedar menjadi industri. Seni hanya menjadi nilai operasional dan keinginanya akan kebahagiaan diganti dengan kebutuhan yang salah atau palsu (false need) dalam masyarakat konsumtif ini. Itulah sebabnya Marcuse, sebagaimana halnya pemikir mahzab Frankfurt (Frankfurt School) lainya seperti Theodore Adorno memandang rendah kebudayaan populer (popular culture) karena sifatnya yang konservatif dan afirmatif. Kebudayaan populer, menurutnya selalu mendamaikan kita dengan kondisi represif dalam masyarakat kapitalis ini.
Selanjutnya menurut Adorno (dalam Storey [ed], 1994: 202), karakteristik fundamental dari budaya populer, khususnya musik populer, termasuk di dalamnya musik rock adalah standarisasi (standarization). Karakteriktik yang membedakannya dengan bentuk high culture yang dianggap adiluhung.

Kritik terhadap pemikiran para pemikir Mahzab Frankfurt kemudian banyak berasal dari Center for Contemporary Cultural Studies (CCCS) atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Birmingham School yang. Para pemikir dari Mazhab Birmingham menyoroti kegagalan analisa para pemikir Mazhab Frankfurt dalam menganalisa kebudayaan, termasuk media culture dan seni yang dikandungnya. Kegagalan mahzab Frankfurt adalah disebabkan karena mereka melihat segala fenomena dari konteks kapitalisme kontemporer (Kellner, 1995: 35).
Berbeda dengan Marcuse yang memandang rendah budaya populer, para pemikir Mazhab Birmingham seperti John Fiske menyatakan bahwa terminologi “popular” menunjukan bahwa budaya media mucul dari “people” (rakyat kebanyakan). Sebagaimana halnya di Amerika Latin, budaya populer menunjukan seni yang diproduksi dari dan untuk rakyat sebagai satu bentuk oposisi terhadap budaya yang hegemonik (hegemonic culture) yang berasal dari kelas yang berkuasa (Kellner, 1995: 34).

Media culture merupakan perwujudan dari industrial culture, yang diorganisasikan atas satu model produksi massa dan diproduksi untuk audiens massa menurut genre yang diminatinya, mengikuti aturan (rules), kode (code) dan formula yang konvensional. Ini menunjukan bahwa media culture merupakan bentuk dari budaya yang komersial (commercial culture) dan produksinya merupakan komoditi yang diusahakan untuk memperoleh keuntungan (profit) yang diproduksi oleh korporasi besar yang terlibat dalam usaha akumulasi kapital (Kellner, 1995:1).
Media culture mampu menunjukan siapa yang memegang kuasa (power) dan siapa yang tidak memegang kuasa (powerless), siapa yang berkuasa untuk melakukan kekerasan dan kekuatan serta siapa yang tidak berkuasa untuk melakukannya. Mempelajari bagaimana membaca, mengkritisi dan melakukan resistensi terhadap manipulasi media dapat membantu individu untuk memperkuat (empower) diri mereka sendiri dalam relasinya kepada ideologi dominan dan budaya dominan (Kellner, 1995:2).

Heavy Metal dan Revolusi Budaya Anak Muda

Di tahun 1960-an relasi antara rock dan revolusi bukanlah merupakan satu joke. Bob Dylan, misalnya terpengaruh oleh gerakan sayap kiri sehingga ia sering dimata-matai oleh agen-agen FBI. Solidaritas politik juga sering dimunculkan dalam berbagai lagu rock dan festival musik rock yang muncul saat itu, seperti halnya Woodstock Music and Art Fair 1969, yang kemudian lebih dikenal sebagai Woodstock saja (Frith dalam Lazare [ed],1987 :309)
Perkembangan rock sebagai satu bentuk resistensi terhadap hegemoni kelas dominan yang berkuasa bermula dari wilayah Pantai Barat Amerika (West Coast) pada tahun 1960-an. Counter culture yang lahir dari berbagai kota di wilayah Pantai Barat Amerika merupakan gabungan dari berbagai macam kelompok kultural kelas menengah, seperti hippies, yippies,freaks, heads, flower generation dan gerakan mahasiswa radikal. Budaya yang berkembang muncul secara serempak dalam bentuk demonstrasi dan festival musik rock, seperti yang terjadi pada saat pelaksanaan festival musik Woodstock ’69 pada tanggal 15 Agustus 1969. Festival ini pada mulanya diperkirakan hanya akan dihadiri oleh sebanyak 50.000 orang, namun pada kenyataannya yang hadir dalam festival ini adalah sebanyak 500.000 orang, karenanya Woodstock ’69 dianggap sebagai gerakan terbesar dalam khasanah counter culture (Storey dalam Storey [ed],1994 : 236).

Anggapan bahwa Woodstock merupakan gerakan perlawanan budaya merupakan hal yang tidak berlebihan. Woodstock ’69 merupakan permulaan segala sesuatu yang merupakan awal dari realisasi apa yang dinamakan sebagai sayap politik dalam perlawanan budaya terhadap kelas dominan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa kaum yippies, pada tahun sebelumnya hanya mampu mengorganisir 10.000 pengikutnya untuk melakukan demonstrasi terhadap Democratic Death Convention, sedangkan Woodstock ’69 secara fantastis mampu mewujudkan dirinya sebagai medium perlawanan (resistensi) yang disuarakan oleh 500.000 audiensnya (Storey dalam Storey [ed], 1994: 236). Perlawanan yang ditujukan pada keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam yang banyak memakan korban generasi muda Amerika (Bannet, 2001: 1)

Di samping merupakan perwujudan dari counter culture, festival ini dalam sisi lain menunjukan bahwa perluasan dan perkembangan counter culture membuka peluang bagi komersialisasi. Di saat khalayak yang datang di Woodstock 1969 merayakan komunitas counter culture-nya, berbagai perusahaan rekaman merayakan semakin luasnya pasar bagi rekaman yang mereka produksi (Storey dalam Storey [ed], 1994: 237).

Di samping anggapan bahwa rock merupakan satu bentuk budaya perlawanan, rock juga dipahami sebagai musik yang lahir dari spontanitas, karenanya rock merupakan bagian dari budaya rakyat (folk culture). Pendapat ini muncul di tahun 1960-an ketika rock benar-benar mampu mewujudkan resistensinya, dan memudar saat tahun 1970-an ketika korporasi media mampu mengkooptasi musik rock. Saat itu musisi rock memiliki suatu kepercayaan mengenai komunitas alternatif yang mereka miliki, daripada sekedar industri entertainment semata. Bagi para musisi yang politis, musik telah menjadi alat untuk memobilisasi massa kelas maupun organisasi serta merupakan perwujudan solidaritas (Storey dalam Storey [ed], 1994: 323). Hal ini berpijak dari apa yang dikatakan oleh Chistian Landau, bahwa disaat itu rock diperdengarkan dan dibuat oleh sekumpulan orang yang sama. Rock tidak berasal dari dalam bangunan kantor-kantor di New York di mana orang duduk dan menulis apa yang mereka pikirkan mengenai apa yang ingin didengar khalayak luas. Rock berasal dari pengalaman hidup sehari-hari (everyday life experience) para musisinya dalam interaksinya dengan audiensnya yang seusia dengan mereka. Namun jika spontanitas dan kreativitas tersebut kemudian menjadi lebih distilisasi dan distrukturisasi, maka akan menjadi lebih mudah bagi para pelaku bisnis yang merupakan manipulator di belakang layar untuk menstrukturkan pendekatan mereka dalam menjadikan musik sebagai komoditas (Frith dalam Lazare [ed], 1987: 311).

Perbedaan antara budaya massa dan budaya rakyat selama ini merupakan wacana yang esensial bagi teori-teori kiri yang berkaitan dengan seni. Oposisi yang dimaksudkan disini adalah antara komunitas versus massa, solidaritas versus alienasi, aktif versus pasif. Argumen yang mendasarinya adalah bahwa budaya rakyat diciptakan secara langsung dari pengalaman komunal masyarakat tertentu. Tidak ada jarak antara artis dengan audiens, dan juga tidak dari perbedaan antara produksi dan konsumsi seni. Basis kultural dari budaya rakyat kemudian dihancurkan oleh tujuan dari relasi dari produksi artistik di bawah sistem kapitalisme. Produk budaya menjadi barang komoditas, diproduksi dan dijual untuk mendapatkan keuntungan dan saling mengalienasikan antara produser dengan khalayak (Frith dalam Lazare [ed], 1987: 312).

Diskursus mengenai musik rock sebagai budaya massa dan budaya rakyat, selanjutnya juga tidak dapat dilepaskan dengan diskursus mengenai budaya populer (popular culture). Budaya populer sendiri seperti yang telah disinggung di atas merupakan satu konsep yang dapat diwacanakan ke dalam berbagai definisi.
Dalam relasinya dengan budaya massa, budaya populer dianggap sebagai budaya yang diproduksi untuk konsumsi massa serta bersifat manipulatif. Sedangkan sebagai budaya rakyat, budaya populer dianggap sebagai budaya yang berasal dari “rakyat” (the people) dan ditujukan juga bagi rakyat. Definisi ini tidak terlepas dari romantisme mengenai adanya budaya kelas pekerja (proletariat) yang dikonstruksi sebagai sumber utama untuk melakukan protes terhadap kapitalisme. Permasalahan yang muncul dari pendekatan kedua ini adalah mengenai siapa saja yang memiliki kualifikasi untuk dianggap sebagai rakyat. Kemudian muncul permasalahan lain mengenai sifat dari berbagai sumber dimana budaya dibuat, karena pada kenyataannya budaya tidak dapat diolah secara langsung dari berbagai material yang bersifat mentah bagi diri mereka sendiri. Apapun jenis budaya populer yang ada, termasuk musik rock, tidak dapat melepaskan dirinya dari komersialisasi (Storey, 1993: 12).

Pemikiran selanjutnya mengenai hal perdebatan diatas dapat dianalisis dengan teori hegemoni yang dikemukakan Antonio Gramsci. Gramsci memakai konsep hegemoni untuk menunjukan metode yang dilakukan oleh kelas-kelas dominan dalam masyarakat melalui proses kepemimpinan moral dan intelektual untuk menguasai kelas-kelas yang berada dalam posisi subordinat. Penggunaan pendekatan ini melihat budaya populer sebagai satu lahan pertarungan (site of strunggle) antara kekuatan resistensi dari kelas subordinat terhadap kekuatan kelas-kelas dominan. Teks-teks yang ada dalam wacana budaya populer selalu bergerak ke dalam apa yang dinamakan Gramsci sebagai compromise equilibrium. Dengan kata lain analisa neo-Gramscian melihat bahwa budaya populer juga merupakan pertarungan ideologi antara kelas-kelas dominan dan subordinat serta budaya dominan dan subordinat (Storey, 1993 : 13).
Musik rock memperlihatkan adanya compromise equilibrium seperti ini, dimana musik rock yang lahir secara bottom up akhirnya harus mengalami inkorporasi (incorporation). Namun setelah terjadi inkorporasi ini ternyata masih ada musisi yang secara idealis meyuarakan pemberontakannya.

Metallica adalah sebuah contoh kongkret dari compromise equilibrium antara musisi heavy metal yang mewakili suara anak muda yang penuh semangat pemberontakan dengan label rekaman mereka yaitu Polygram yang mewakili kaum pemodal. Di dalam lingkaran setan kapitalisme multinasional Polygram, Metallica masing berteriak garang mengenai Perang Vietnam melalui lagu “One” yang bercerita tentang seorang tentara yang hilang di medan perang yang mengerikan di Vietnam pada tahun 1960-an. Demikian pula, pesaing berat Metallica, Megadeth yang mengkritik kebijakan militer Amerika Serikat melalui lagu “Hanggar #18” padahal di saat yang bersamaan Megadeth berada dalam cengkraman Capitol Records, sebuah perusahaan musik transnasional.

Heavy metal menjadi satu genre rock yang melaju kencang sampai detik ini. Secara musikal heavy metal merupakan perpaduan antara musik psychedelic tahun 1960-an dengan struktur chord dasar blues (Chambers dalam Bennett, 2001: 43). Perpaduan inilah yang kemudian menjadikan heavy metal menjadi populer. Hal ini sangat menarik karena musik blues sendiri pada mulanya lahir dan banyak berkembang dalam komunitas kaum kulit hitam (Lipstitz dalam Lazare [ed], 1987: 296), sedangkan heavy metal dalam perkembangan selanjutnya dianggap sebagai musiknya kaum kulit putih (Bennett, 2001: 44).

Heavy metal, terutama pada masa awal pertumbuhannya berkembang pesat di Inggris dan Amerika Serikat, sehingga muncul kontroversi perdebatan mengenai tempat lahir heavy metal. Sebagian sejarawan musik seperti Gross berpendapat bahwa heavy metal lahir di tanah Amerika saat sebuah band bernama Steppenwolf merekam album mereka yang bertajuk Born to be Wild di tahun 1967. Namun beberapa ahli sejarah musik yang lain seperti Breen mengemukakan argumennya bahwa di tanah Inggris-lah heavy metal terlahirkan. Debut album band legendaris, Led Zeppelin di tahun 1968 adalah tonggak kelahiran heavy metal. Selain itu menurut Breen, di Birmingham, kota industri di Inggris yang banyak dihuni kelas pekerja, heavy metal berkembang dengan pesat. Ozzy Osbourne, Black Sabbath dan Judas Priest, adalah artis dan band heavy metal legendaris yang menyeruak ke permukaan blantika musik rock akhir tahun 1960-an berasal dari kota ini.

Kontroversi berlanjut dengan temuan beberapa studi yang memperlihatkan penemuan bahwa karakter heavy metal dalam musik rock pertama kali terdengar pada lagu You Really Got Me Now dari The Kinks dan My Generation dari The Who. Sedangkan sebutan artis heavy metal pertama kali diberikan kepada Alice Cooper dengan bandnya The Spider yang didirikan pada tahun 1965, jauh sebelum ia dikenal luas melalui hitnya Love It To Death pada tahun 1971. Namun heavy metal sendiri baru benar-benar muncul ke permukaan pada tahun 1967-an.
Kemudian selama tahun 1970-an heavy metal berkembang pesat ke seluruh dunia dengan ditandai oleh popularitas Led Zeppelin, Deep Purple, Uriah Heep yang berasal dari Inggris dan Kiss yang mewakili Amerika Serikat. Tak pelak keempatnya menjadi simbol popularitas heavy metal dekade tersebut (Bennet, 2001: 44).
Popularitas heavy metal pada dekade selanjutnya semakin melejit dengan dibuktikan melalui keberhasilannya mencatat angka rekaman sejumlah empat puluh persen dari seluruh jumlah album musik yang dirilis di Amerika Serikat pada tahun 1989. Majalah musik terkemuka, Rolling Stone menyatakan bahwa heavy metal saat itu telah menjadi mainstream rock and roll (Walser dalam Bennett, 2001: 45).

Saat heavy metal meraih popularitasnya, beragam fenomena muncul ke permukaan. Pada awal pertumbuhannya di tahun 1970-an sampai dengan awal 1980-an hampir semua band beraliran heavy metal terdiri dari personel laki-laki. Frith dan McRobbie memperkenalkan istilah cock rock untuk menunjuk pada eksplorasi machoistic image yang ditampilkan oleh para artis heavy metal (dalam Bennett, 2001: 48). Dalam studi yang dilakukan oleh Sloat mengenai pendeskripsian perempuan dan seksualitasnya dalam lirik heavy metal, perempuan secara mayoritas digambarkan dalam bentuk subversi seksual, seperti yang ditunjukan dnegan pemakain kata whore dan bitch atau dengan menggambarkan perempuan sebagai alat pemuas kebutuhan laki-laki serta dengan penggambaran dominasi seksual laki-laki. Sloat mengemukakan bahwa lirik yang terdapat dalam heavy metal berakar dari sistem patriarki dalam masyarakat kapitalis kontemporer dan digunakan sebagai sarana untuk menunjukan dominasi sosial laki-laki terutama anak muda dengan menjadikan perempuan sebagai korban (victim). Posisi perempuan sebagai pihak yang “tidak berkuasa” ini dimaksudkan agar anak muda laki-laki tidak merasa bahwa mereka sendirilah sebenarnya yang menjadi korban (Bennett, 2001:48-49).

Popularitas heavy metal di pertengahan tahun 1980-an juga melahirkan representasi gender yang lain, yaitu dalam bentuk androgyny yang mengaburkan batas-batas gender. David Bowie adalah artis yang pertama kali sukses menampilkan representasi seksual dalam bentuk androgyny dalam dunia heavy metal. Marilyn Manson, yang sering dimasukan sebagai bagian dari subgenre heavy metal bernama musik industrial, meneruskan jejak David Bowie dengan gaya berpakaian di panggung yang benar-benar telah mengaburkan batasan gender.

Heavy Metal Vs Kepanikan Moral Penguasa

Selama tiga puluh tahun semenjak kemunculannya, heavy metal telah menjadi biang kepanikan moral penguasa. Kampanye paling gencar yang dilakukan untuk melawan heavy metal terjadi di pertengahan tahun 1980-an saat heavy metal menjadi subyek penyensoran dan tindakan hukum. Di beberapa tempat, seperti di Washington DC dibentuk PMRC (Parents Music Resource Center) pada bulan Mei 1985 oleh beberapa istri pejabat pemerintahan federal Amerika Serikat dan juga diperkuat oleh para anggota Kongres Amerika. Didirikan dengan satu argumen bahwa musik pop secara agresif mempromosikan seks, minuman keras dan kekerasan. PMRC memulai kampanyenya dengan kampanye pelarangan pemutaran lagu yang dinyanyikan oleh Prince, Sheena Easton dan Judas Priest (Bennett, 2001: 53).
Dalam kasus heavy metal, kampanye anti heavy metal bukan hanya dilakukan oleh PMRC namun juga didukung oleh pihak-pihak lainnya seperti gereja dan kalangan psikiatri, yang semuanya menyatakan bahwa heavy metal mempromosikan pemujaan kepada setan (satanism) dan black magic yang sering termuat dalam lirik musik heavy metal, sampul album, video klip dan material promosi lainnya, seperti poster, dan background panggung pertunjukan.
Salah satu kampanye anti heavy metal yang fenomenal terjadi saat beberapa perwakilan dari PMRC dan Parents Teacher Association mengadakan testimoni yang berisi penentangan mereka terhadap pengaruh negatif heavy metal pada hearing yang diadakan Senat Amerika Serikat pada tahun 1985. Pada intinya, substansi testimoni mereka adalah bahwa heavy metal membawa efek yang merugikan para pendengarnya, terutama anak muda (Bennett, 2001: 53).
Mereka mengungkapkan beberapa kasus yang menurut mereka terinspirasi oleh heavy metal. Salah satunya adalah lirik lagu Ozzy Osbourne yang berjudul Suicide Solution yang mengakibtakan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang fansnya berusia sembilan belas tahun bernama John Mc Collum. Di malam akhir tahun 1984, John Mc Collum sendirian berbaring di ruang tamu rumahnya. Tubuhnya dibalut pakaian kulit berwarna hitam. Lewat headphones yang melekat di telinganya berdentang lagu-lagu Ozzy Osbourne dari album Blizzard of Ozz, yang salah satunya lagunya berjudul Suicide Solution. Tidak lama kemudian, John Mc Collum masuk kamar dan keesokan harinya ia ditemukan tewas bunuh diri dengan peluru menembus kepalanya. Kasus bunuh diri lainnya yang dihubungkan dengan pengaruh negatif heavy metal melalui Suicide Solution-nya Ozzy Osbourne dialami oleh Michael Waller (16 tahun) yang ditemukan tewas di dalam mobilnya pada tahun 1986. Mirip dengan kasus John Mc Collum, dalam mobil Michael Waller ditemukan kaset album Ozzy Osbourne, Blizzard of Ozz (Hai No. 34 Th. XIV / 21-27 Agustus 1990).

Selain Ozzy Osbourne, Judas Priest adalah band heavy metal yang sering diserang oleh PMRC dan lembaga sejenisnya. Judas Priest dianggap bertanggung jawab dalam meninggalnya Ray Belknap, remaja asal Reno Amerika Serikat pada tanggal 23 Desember 1985. Ray Belknap ditemukan meninggal dengan isi kepala berantakan diterjang peluru dan berdasarkan hasil penyelidikan polisi dan pengakuan Jay Vance, sahabat karib Ray Belknap yang berada di lokasi kejadian disimpulkan bahwa Ray Belknap meninggal dengan cara bunuh diri.

Kasus ini mungkin tidak akan menyeret Judas Priest jika Jay Vance tidak “bernyanyi” bahwa Ray Belknap bunuh diri karena terispirasi lirik lagu yang terdapat dalam album Judas Priest yang bertajuk Stained Glass. Pengakuan Jay Vance ini digunakan oleh pengacara keluarga Ray Belknap untuk menggiring band heavy metal papan atas ini ke meja hijau. Tuntutan tidak hanya ditujukan kepada Judas Priest saja, namun juga kepada CBS, perusahaan rekaman yang merekan dan mengedarkan Stained Glass. Album Judas Priest yang dirilis tahun 1978 ini dianggap memuat lirik-lirik yang menganjurkan orang untuk bunuh diri. Dan anjuran ini dianggap efektif untuk remaja semacam Ray Belknap. Pihak penuntut memberi contoh lirik lagu Beyond The Realms of Death yang termuat dalam album tersebut: “Yeah I have left the world behind / I’m safe now in my mind / (I’m free to speak with my own mind / This is my life this is my life / And I’ll decide not yo / Keep the world with all its sin / It’s not fit for livin in “ (Hai no. 34 Tahun XIV/21-27 Agustus 1990).
Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Norwegia, heavy metal berkembang secara ekstrim ke dalam kebangkitan subgenre baru yang dinamakan black metal pada awal tahun 1990-an. Menurut Harris (dalam Bennett, 2001: 55), black metal banyak mencaplok ide-ide pagan, viking dan anti-christian heritage yang diwujudkan dalam bentuk nationhood dan neofasisme. Ide-ide seperti ini seringkali menyebabkan tindakan berbau rasis, seperti yang serangkaian pembunuhan yang dilakukan dua orang anggota kelompok black metal Norwegia yang mengakibatkan keduanya harus meringkuk di penjara 14 dan 21 tahun.

Dari fenomena yang terjadi di Eropa Utara ini, menjadi kian menarik untuk melihat kecenderungan musik heavy metal sebagai musik kaum WASP (White Anglo Saxon Protestan) dengan melihat dominasi para musisi kulit putih di berbagai band heavy metal papan atas. Metallica, Megadeth, Slayer, Pantera, Judaspriest, Metal Church dan banyak band heavy metal lainnya terdiri dari musisi berkulit putih. Walaupun demikian juga tidak bisa dipungkiri adanya fenomena musisi non-kulit putih dalam dinamika heavy metal, sebagaimana yang ditunjukan oleh Sepultura.

Kesimpulan

Heavy metal secara jelas memperlihatkan adanya compromise equilibrium dalam budaya massa. Di satu sisi, genre musik ini adalah bagian dari corak produksi (mode of production) kaum kapitalis yang menguasai roda produksi rekaman yang bersifat transnasional, namun pada sisi yang berseberangan, musik heavy metal mampu memainkan peranannya sebagai saluran resistensi terhadap dominasi dan ideologi para penguasa.
Tak ayal, semangat resistensi yang dikandung dalam rahim heavy metal ini menebabkan kepanikan moral para penguasa yang merasa gerah dengan adanya resistensi yang disuarakan para musisi heavy metal. Di Amerika Serikat, yang mengklaim dirinya sebagai surga demokrasi, kepanikan moral ini diwujudkan dalam pembentukan PRMC, yang banyak mendapat serangan keras para musisi heavy metal karena fungsinya yang tidak lebih selain lembaga sensor belaka.

Di negara Ketiga, heavy metal bermetomarfosis sebagai alat perlawanan terhadap dominasi negara maju yang selama ini selalu menghisap sumber daya alam dan keringat buruh negara miskin. Rock in Rio adalah bentuk nyata adanya resistensi transnasional ini.
Dilihat dari sisi gender, heavy metal sarat dengan ideologi patriarki yang terlihat dari berbagai lirik, video klip maupun aksi panggung berbagai band heavy metal. Keberpihakan heavy metal terhadap patriarki melahirkan sebutan cock rock bagi musik ini.

Sayangnya, di tengah artikulasi ideologi resistensi ini, heavy metal masih mengidap penyakit fasis, sebagaimana yang terlihat dalam fenomena musik heavy metal, terutama melalui subgenre black metal, di Eropa Utara.

Daftar Pustaka

Storey, John (ed) (1994). Cultural Theory and Popular Culture, A Reader. Herfordshire, Harvester Wheatsheaf
Bennett, Andy (2001). On Popular Music. London, Routhledge
Deveroux, Eoin (2002). Understanding The Media. London, McMillan
Lazare, Donald (Ed) (1994). American Media, Left Perspective. New York, Sage
Kellner, Douglas (1998). Media Culture, Identity and Politics between Modern and Posmodern. New York, Routhledge
McQuail, Dennis (2000). McQuail’s Mass Communication Theory, 4th Edition. London, Sage
Shuker, Roy (2001). Understanding Popular Music, 2nd Edition. New York, Routledge
Stevenson, Nick (1997). Understanding Media Culture. London, Sage
Magnis-Suseno, Franz (1996). Mengenang Kiri Baru, dalam Basis No. 3-4/1996
Hai No. 34 Th. XIV / 21-27 Agustus 1990
Haiklip Woodstock 99, September 1999
Haiklip Rock In Rio, Februari 2001
(Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Jurnal Komunikasi UII, Yogyakarta). 

*) Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, juga mengajar Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Islam Indonesia dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

source : http://www.indonesiaartnews.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s