Gegeruk Tandak – Kesenian Yang Mampu Taklukkan Hewan Buas

Gegeruk Tandak

Gegeruk Tandak


 

Lombok, menarik tidak hanya karena peralihan di antara Indonesia’s Asia dan Australia fauna dan flora zona- atau yang dikenal sebagai garis Wallace, Tetapi dikarenakan oleh dandanan kebudayaan yang memikat, dan berbagai elemen pencampuran kebudayaan itu sendiri. Lombok di kenal sebagai “putri cantik yang terTidur“. Para pengunjung dari eropa menggambarkannya sebagai “desa perdana yang muda dan manis ” jika dipandang dari pojok mata yang gemerlapan.

Kabupaten Lombok Utara sebagai salah satu kabupaten termuda di Propinsi Nusa Tenggara Barat, yang berdiri pada 24 Juli 2008, dianggap sebagai tempat peradaban tertua di pulau seribu masjid ini. Tradisi yang mengakar begitu kuat dilandasi dengan pondasi religiulitas, banyak menyimpan kekayaan kultur dan budaya yang masih natural yang selama ini masih belum banyak dikenal. Bahkan banyak kultur budaya yang sudah terlupakan. Salah satunya kesenian Gegeruk Tandak, yang konon kesenian satu ini mampu menina bobokan hewan buas, hingga tidak mengganggu manusia lagi.

”Hingga tidak terlintas di pikiran hewan-hewan buas ini untuk mengganggu umat manusia dan ladang mereka, karena terbuai oleh kesenian ini,”terang Rianom, salah satu budayawan dari Bayan, Lombok Utara.

Seperti dikisahkan oleh pria yang juga menjabat sebagai Kepala sekolah SDN 2 Loloan ini, kesenian yang satu ini lahir mengikuti pola hidup manusia jaman dahulu, ketika masih menganut pola hidup beladang, maupun berpindah-pindah atau nomaden.

Begitu arifnya manusia jaman dahulu memperlakukan alam, mencoba hidup berdampingan secara harmonis dengan alam serta penghuninya, hingga pada saat mereka mau membuka ladang di tengah hutan rimba, tidak serta merta dibabat begitu saja, tapi terlebih dahulu untuk beradaptasi dengan alam dan penghuninya.

Sebelum membuka lahan, salah satu pemimpin dari suku nomaden yang memiliki kemampuan tinggi, dan disebut sebagai Penghulu Alim, terlebih dahulu mencba berkomunikasi dengan para hewan buas ini, terutama hewan pengganggu tanaman. Hewan-hewan buas ini kemudian dikumpulkan, dihibur atau dijinakkan oleh Penghulu Alim.

”Dengan kemampuan yang dimilikinya, beliau menyamar menjadi Mayung Putih, yang dipilih sebagai pemimpin kumpulan hewan buas ini. Kumpulan hewan inilah yang kini disebut sebagai Gegeruk Tandak,”jelasnya kembali.

Hingga akhirnya ketika kaum manusia ini membuka lahan, kumpulan hewan buas ini merasa, bahwa kedatangan manusia tidak akan mengganggu habitat mereka, sehingga para hewan buas ini tidak lagi mencoba mengganggu manusia dan ladangnya, juga dikarenakan yang membuka lahan ini adalah mayung putih, sosok yang dianggap pemimpin para hewan buas ini.

Manusia pun memperlakukan alam dan penghuninya dengan layak, mengambil apa yang disediakan alam raya hanya untuk kebutuhan mereka menyambung hidup, tidak serta merta mengekploitasinya habis-habisan.

Kesenian Gegeruk Tandak ini sendiri dimainkan 13 orang, dimana satau orang berperan sebagai ’Oncek’, atau penyamaran pengulu alim yang berwujud sebagai Mayung Putih. Sedangkan 12 orang lainnya hanya berperan sebagai penari semata saja.

”Di jaman dulu, kalau istri lagi hamil dan ngidam, selalu mengidamkan hati mayung putih, ini dikarenakan betapa luar biasa kemampuan, akhlak serta perilaku dari mayung putih tersebut, yang diharapkan bisa menurun pada sang jabang bayi,”selanya kembali.

Sangat menarik bila melihat kesenian yang satu ini hadir diatas pentas, dimana ketika 13 orang menari membentuk formasi barisan memanjang atau lingkaran, dimana semuanya menari dan melawas atau menembang, hingga saling berbalas pantun. Mereka menari pun tidak membutuhkan alat musik pengiring. Musik pengiring mereka cukup hanya bunyi-bunyian yang keluar dari bibir masing-masing. Seperti acapella atau musik bibir, hanya saja ini acapella khas orang Bayan.

”Dulu binatang yang dianggap beringas adalah babi hutan, hingga bunyi musik gegeruk tandak ini menyerupai bunyi babi,”paparnya.

Karena dianggap kesenian ini mampu menaklukkan para hewan yang mengganggu manusia, para tetua adat jaman dahulu sepakat, bila kesenian ini dikeramatkan, diritualkan, tidak boleh sembarang waktu diadakan.

Yang jelas makna yang yang terkandung di kesenian ini, bagaimana supaya manusia bisa bersahabat dengan alam, saling menghargai, menciptakan sebuah hubungan simbiosis mutualisme antara manusia dengan alam dan penghuninya, membuat harmoni untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.

”Contohnya, ketika membuka lahan, kita harus permisi dulu, kemudian memanfaatkannya hanya sebatas kebutuhan kita saja, tanpa harus merusak apalagi mengekploitasinya,”tukasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s