Musik adalah kebersamaan

By : Andrie Tidie [ http://www.gitargila.com ]

Musik adalah kebersamaan sebagaimana halnya Kehidupan

Musik adalah kebersamaan

Musik adalah kebersamaan

Itu sebabnya musik Gitar Classic Tunggal kurang mendapatkan tanggapan di-masyarakat dibandingkan Band karena musik yang dihasilkan secara bersama memiliki kekuatan menyentuh jiwa berkali-kali lipat. Serta menjadi semacam ritual kebersamaan yang melibatkan emosional pemain dan juga penonton.

Kebersamaan adalah kata kunci-nya disini karena pada intinya bermusik itu adalah merayakan kehidupan dan kehidupan itu bukan sendirian. Setiap anggota masyarakat dalam hidup ini sama-sama punya peran, kaya miskin, jelek cakep, kampungan modern, kuno trendy, macho nerdy, etc. Kombinasi itu semualah yang menjadi satu kehidupan ber-masyarakat, mereka-mereka yang merasa hebat sendiri, tampan sendiri, jago sendiri, kaya sendiri, cool sendiri, berkuasa sendiri etc. adalah manusia yang sedang kehilangan esensi kehidupan. Kehilangan itu belum akan terasa sampai waktunya kenyataan berdiri didepan mata dan menunjukkan realitas yang sebenarnya, tapi bagi mereka biasanya itu sudah terlambat, biasanya itu datang saat babak terakhir dari kehancuran.

Banyak yang tidak peduli, tidak mau capek berpikir ataupun berusaha melawan kenyataan dan terus tancap gas dalam Ego-Trip mereka walau mereka sadar bahwa Realitas senantiasa berada disisi mereka dan menghantui setiap detik hari-hari mereka.

Realitas yang berkata pada Axel Rose bahwa eh Bung, diri ente bukan seperti yang ente bayangkan, rambut ente sudah rontok dan botak, ente sudah tidak pernah naik panggung selama 23 tahun, masyarakat sudah memandang remeh pada karir ente yang gak jalan-jalan selama ini. Tapi mengapa ente masih ngotot merasa sebagai seorang Rock Superstar ?

Mengapa hal itu sampai terjadi pada Axel ? karena, he went at it alone, he saw everything as one man job and took credit for all the success he and “the band” had achieved.
Dalam nge-Band, disaat kita mulai merasa bahwa sukses ini adalah akibat dari ke-geniusan kita dan karena faktor Kewl diri sendiri, faktor lagu ciptaan kita, faktor suara melengking kita, ataupun faktor kecepatan nge-shredd Neo-Classic kita, whatever.

Saat itu-lah kita telah menjadi manusia paling kampungan yang pernah hidup di-dunia, sengaja di-exagerated agar kita mengerti bahwa tidak ada hal dalam hidup yang merupakan prestasi kita semata-wayang, semunya menyangkut orang lain. Menyangkut Mass-Media yang kebetulan sedang fokus pada diri ente, menyangkut Gitaris anda yang kebetulan dapat yang pas bagi musik anda, menyangkut keluarga anda dirumah yang kebetulan memberikan situasi yang mendukung, etc. What the fuck, bahkan menyangkut Gunung Karakatau yang tidak jadi meletus menghancur leburkan kota Jakarta sehingga seluruh Industri Hiburan gulung tikar dan anda gak dapat job lagi. Menyangkut segalanya.

Sebagaimana Jari kita ada lima dan terdiri dari kelingking, jempol, telunjuk etc, begitu juga dalam sebuah Band masing-masing punya job yang tidak tergantikan dalam merayakan kehidupan secara bersama-sama. Jika kita telah menganggap Band kita adalah keluarga maka kita tidak akan secara gampang memiliki perasaan mau menang sendiri, atau jalan sendiri dan merasa diri paling penting, itu kampungan dudes.

Sekedar Info, Seniman punya kelemahan paling kentara, yaitu selalu merasa bahwa karya cipta diri sendiri atau kemampuan diri sendiri adalah yang paling hebat dan karya cipta seniman lain kurang ber-mutu. Harap di-ingat itu adalah kelemahan Seniman yang membuat mereka tidak obyektif dalam menilai diri sendiri, sehingga sering terlalu menganggap tinggi diri sendiri sementara kenyataan berkata lain. Membuat diri mereka berada dalam situasi Tragis, banyak contoh dalam sejarah musik dunia ataupun Indonesia, Axel Rose, Elvis Presley atau Deddy Stanzah.

Seperti kata SRV, susah untuk mempertahankan perspektif didalam bisnis musik ini, sekali kamu kehilangan perspektif yang sebenarnya, maka tenggelam lah kamu dalam karya2 tidak bermutu, dalam obat bius, dalam Ego-Trip, dalam Nostalgia Post Power-Syndrome, etc.
Perspektif itu adalah Kebersamaan dalam merayakan Kehidupan dengan Musik, lain-lain-nya datang terakhir. Shania Twain bilang, so ? you got famous, you think you’re cool, you got a big car..that don’t impressed me much.

Merayakan Kehidupan dengan bermusik, itu datang duluan, sukses datang belakangan, memainkan musik yang menyentuh jiwa, itulah yang berarti, bukan-nya potongan tubuh atau style rambut. Tanpa musik yang punya arti sekelompok Superstar hanyalah merupakan Nabi-Nabi palsu yang di-propaganda-kan oleh Mass-media, di-peras dan dipergunakan sebagai komoditi oleh Korporasi Media Hiburan dengan target masyarakat yang disuguhi musik-musik yang tidak punya emosi-jiwa, yang tersisa hanyalah jiwa dan sensitifitas yang kering kerontang serta superfisial. Itu sudah merampok Seni dari tujuan dan kaidah yang sebenarnya yaitu mengisi kehidupan ini dengan emosi-jiwa yang dalam dan punya arti bagi kehidupan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s